Membangun Gerakan Agroekologi dari Desa di 30 Kabupaten Indonesia

Kemitraan Agroekologi adalah jaringan komunitas, petani, pendamping, dan lembaga mitra yang memperkuat praktik agroekologi berbasis wilayah untuk mewujudkan kedaulatan pangan, pemulihan ekologi, regenerasi petani, dan pembelajaran publik dari desa.

Kami percaya bahwa masa depan pangan Indonesia dibangun dari kekuatan komunitas. Melalui simpul wilayah, Kawasan Pendidikan Agroekologi, sekolah lapang, petani pelatih, dan kemitraan multipihak, kami memperluas praktik agroekologi agar sistem pangan menjadi lebih sehat, adil, ekologis, dan berkelanjutan.

Apa itu Kemitraan Agroekologi?

Kemitraan Agroekologi adalah ruang kolaborasi antar-komunitas, organisasi masyarakat sipil, petani, pendamping, dan mitra pembelajaran yang bersama-sama mengembangkan agroekologi di berbagai wilayah di Indonesia.

Kami tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun ekosistem belajar yang bertumpu pada pengalaman desa, pengetahuan petani, pemulihan lingkungan, dan penguatan organisasi komunitas. Pendekatan ini membantu menghubungkan praktik lapangan, pendidikan, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama lintas pihak dalam satu gerakan yang saling menguatkan.

Fokus kerja kami

• Memperkuat simpul wilayah agroekologi di berbagai kabupaten.
• Mengembangkan Kawasan Pendidikan Agroekologi berbasis komunitas.
• Mendorong sekolah lapang, petani pelatih, dan pertukaran pengetahuan antarwilayah.
• Menghubungkan praktik lapangan dengan pembelajaran publik, advokasi, dan kemitraan multipihak.

Agenda 2026-2031

30

Kabupaten sasaran pengembangan simpul wilayah

30

Kawasan Pendidikan Agroekologi berbasis komunitas

3 tahun

Periode pengembangan awal gerakan nasional

1 dusun/desa

Cakupan sosial minimum kawasan pendidikan

5 hektar

Luasan minimum kawasan pendidikan agroekologi

10 kabupaten

Target pengembangan pada tahun pertama

Ruang Konvergensi Program

Simpul Wilayah dan Kawasan Pendidikan Agroekologi dikembangkan sebagai ruang konvergensi program di tingkat komunitas untuk memperkuat ketahanan pangan, memperluas praktik pertanian rendah emisi, dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

Pendekatan ini mempertemukan tiga arah kebijakan yang saling melengkapi, yaitu Program Kampung Iklim (ProKlim) dari Kementerian Lingkungan Hidup, Desa Berketahanan Pangan dari Kementerian Desa PDT, dan Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) dari Kementerian Pertanian.

Melalui Simpul Wilayah dan Kawasan Pendidikan Agroekologi, komunitas didorong untuk membangun adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui peningkatan tutupan hijau, pengembangan agroforestri, diversifikasi usaha tani, pemupukan organik, serta penguatan sistem produksi dan cadangan pangan lokal berbasis potensi desa.

Poin pendukung

• Mendorong adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis komunitas melalui praktik budidaya rendah emisi dan peningkatan tutupan vegetasi.
• Memperkuat produksi, distribusi, dan cadangan pangan lokal sesuai potensi sumber daya desa.
• Mengintegrasikan teknologi dan praktik pertanian adaptif iklim untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan penghidupan masyarakat.

Belajar, Terhubung, dan Berkolaborasi

Situs ini menjadi pintu masuk bagi petani, komunitas, pendamping, organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, peneliti, mahasiswa, dan publik untuk mengenal program, wilayah kerja, cerita lapangan, dan peluang kolaborasi dalam pengembangan agroekologi di Indonesia.

Untuk petani dan komunitas — Temukan pembelajaran, jejaring, dan praktik agroekologi dari berbagai wilayah.

Untuk mitra program dan pemerintah — Pelajari pendekatan kolaboratif yang dapat dikembangkan di tingkat wilayah.

Untuk peneliti, mahasiswa, dan publik — Akses cerita, pembelajaran, dan perkembangan gerakan agroekologi dari desa.

Kontak

Nama *
Email *
Telepon
Pesan *